Breaking News
Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Fokus Kebut Hitung Kerugian Keuangan Negara Skala perkara ini bahkan melonjak drastis setelah penggeledahan sebuah rumah di Sentul. Kakortas Tipikor Polri, Irjen Totok Suharyanto, menyatakan bahwa penyidik menemukan brankas terkunci berisi tujuh koper dengan 74 kilogram emas batangan, USD 4.767.300, SGD 14.083.800, dan Rp100 juta—dengan estimasi nilai total yang fantastis mencapai Rp476 miliar.Penegakan Hukum Melihat fakta mencengangkan tersebut, fokus publik sama sekali tidak boleh digeser dari kekuatan barang bukti menjadi sekadar motif politik. Narasi “serangan balik oligarki/koruptor” justru sangat berbahaya karena berpotensi membangun kekebalan hukum baru bagi pejabat tinggi. Jika logika bengkok ini diterima—di mana setiap bukti disebut rekayasa, setiap penggeledahan dicap perang institusi, dan setiap penyidikan dituduh sebagai serangan balik—maka tidak akan pernah ada pejabat tinggi penegak hukum yang bisa disentuh oleh hukum itu sendiri. Isu rivalitas antara Polri, Kejaksaan, dan TNI juga tidak boleh dijadikan kabut untuk menutup-nutupi perkara. Temukan lebih banyak Voli Indonesia terbaru Berita Lokal Pelatihan literasi media TNI sendiri telah menegaskan bahwa pengamanan di rumah Febrie dilakukan murni atas permintaan Kejaksaan Agung dan tidak berkaitan dengan penggeledahan De’Clan. TNI juga memandang penggeledahan oleh Polri sebagai proses hukum yang berbeda dan sepenuhnya merupakan kewenangan Polri. Gayung bersambut, Kejaksaan Agung pun menyatakan menghormati proses penyidikan yang dilakukan oleh Polri terkait tiga perkara dugaan korupsi tersebut. Pernyataan resmi ini harus menjadi pegangan bersama. Jika Kejaksaan menghormati proses hukum, maka tidak boleh ada lagi narasi politik partisan yang mendorong publik untuk melemahkan penyidikan sebelum seluruh alat bukti diuji di pengadilan. Pengusutan megakorupsi ini tidak boleh kalah oleh lagu lama. Sebagai negara hukum, Indonesia tidak boleh tunduk kepada mantra “serangan balik koruptor” atau “serangan balik oligarki”.Berita timnas Indonesia Jika Febrie memang bersih, proses penyidikan yang transparan justru akan membersihkan namanya secara sah. Sebaliknya, jika terbukti ada jaringan yang memanfaatkan relasi, jabatan, perusahaan, money changer, emas, dan valas untuk menyamarkan dana haram, maka penyidikan harus membongkarnya sampai ke akar-akarnya. Temukan lebih banyak Hiburan & Game Berita nasional terbaru Jurnalistik investigasi online Pejabat yang melawan oligarki sekalipun tetap harus bisa diperiksa. Satgas PKH tidak boleh menjadi tameng perlindungan, dan posisi Jampidsus tidak boleh menjadi zona steril dari hukum. Sebelumnya Kawasan Elite Perumahan Golf Hijau Sentul City Didatangi Pasukan Penyidik Tengah Malam Evaluasi Standar Keselamatan Kerja Patroli Laut Didesak Pasca Pegawai KPPBC Gugur Tugas Pecahan Uang Dolar Amerika Dan Dolar Singapura Senilai Ratusan Miliar Diangkut Ke Markas

Evaluasi Standar Keselamatan Kerja Patroli Laut Didesak Pasca Pegawai KPPBC Gugur Tugas

Realisasi Pajak 2025 Belum Capai Target Maksimal
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa/(instagram )

Faktababel.id — Dedikasi tinggi dan pengorbanan tanpa batas di barisan terdepan penjaga pintu gerbang ekonomi negara kembali dibayar mahal dengan hilangnya nyawa seorang abdi masyarakat. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Aditya Waskita Jauhari, seorang pegawai berdedikasi tinggi dari draf kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) wilayah Riau.

Aditya dilaporkan gugur saat sedang melaksanakan draf tugas negara berupa pengawasan komoditas ekspor di kawasan perairan Tanjung Buton, Kabupaten Siak, Riau, pada Senin dini hari (7/7/2026).

Melalui draf unggahan takziah di akun Instagram resminya, Purbaya memberikan penghormatan setingGI-tingginya atas draf pengabdian luhur almarhum yang selama ini menjalankan draf tugas sebagai pelaksana teknis di KPPBC Tipe Madya Pabean B Pekanbaru. Sang Menteri berharap penuh agar draf seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan kelapangan dada, kekuatan, serta ketabahan dalam menghadapi draf cobaan hidup yang sangat berat ini.

Kronologi Kapal Pompong Petugas Terbalik Dihantam Arus Perairan Siak

Berdasarkan draf kronologi laporan operasional di lapangan, peristiwa tragis ini bermula saat tim gabungan Bea Cukai tengah melakukan draf pemeriksaan fisik kargo muatan pada kapal niaga MV Himala V195. Saat patroli berjalan, kapal pompong yang ditumpangi oleh tim operasional mendadak draf kehilangan keseimbangan hingga terbalik dan tenggelam akibat dihantam oleh draf pusaran arus perairan yang sangat kuat.

Meskipun sebagian besar draf rekan satu tim lainnya berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat dalam kondisi selamat, nasib berkata lain untuk Aditya Waskita Jauhari yang ditemukan petugas dalam draf keadaan sudah meninggal dunia.

  • Risiko Profesi: Purbaya menegaskan kejadian ini menjadi draf alarm pengingat keras bagi publik mengenai tingginya draf risiko keselamatan kerja yang dihadapi pegawai Kementerian Keuangan di lapangan.

  • Apresiasi Menkeu: “Banyak draf pengorbanan fisik yang tidak selalu terdengar di media, namun nilainya sangat berarti bagi kedaulatan anggaran negara,” ungkap Purbaya, dikutip dari CNN.

DJBC Berkomitmen Evaluasi Menyeluruh Standar Keselamatan Operasi Perairan

Sebagai respons cepat atas insiden maut tersebut, pihak manajemen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menyatakan komitmen penuh untuk memberikan draf pendampingan psikologis serta jaminan santunan kedinasan secara optimal kepada pihak keluarga almarhum.

Selain penanganan draf hak-hak korban, DJBC juga akan segera melakukan draf evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) keselamatan kerja di laut. Langkah penataan ulang draf sistem proteksi diri serta kelayakan armada patroli ini menjadi draf urgensi utama agar draf kejadian kecelakaan air serupa dilarang keras terjadi kembali di masa depan.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *