Kementerian Keuangan Targetkan Diversifikasi Sumber Pembiayaan Melalui Multi Year Pipeline

Realisasi Pajak 2025 Belum Capai Target Maksimal
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa/(instagram )

Faktababel.id — Prestasi internasional di bidang akademik dan tata kelola moneter berhasil ditorehkan oleh bendahara negara. Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, dianugerahi gelar Profesor Kehormatan (Honorary Professor) di bidang Ekonomi dari Universitas Nankai, Tianjin, China. Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung usai ia memberikan kuliah umum komprehensif mengenai stabilitas makroekonomi dan pengelolaan kebijakan fiskal Indonesia dalam agenda kunjungan kerja resmi pekan lalu.

Prosesi penganugerahan gelar sakral tersebut dipimpin langsung oleh Presiden sekaligus Rektor Universitas Nankai, Prof. Chen Yulu. Dalam draf surat ketetapan senat akademik yang diumumkan secara resmi pada Rabu (24/6/2026), penghargaan tertinggi ini diberikan sebagai bentuk pengakuan internasional atas kepemimpinan taktis Purbaya dalam mengelola keuangan publik serta memperkuat resiliensi stabilitas sektor keuangan di kawasan Asia Tenggara.

“Keputusan ini merupakan pengakuan atas kepemimpinan Anda yang luar biasa, kontribusi yang menonjol dalam bidang keuangan publik internasional, serta komitmen yang teguh terhadap pembangunan ekonomi,” ujar Prof. Chen Yulu dalam pidato sambutan resminya.

Merespons apresiasi tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penghargaan ini mencerminkan semakin eratnya hubungan bilateral dan diplomasi ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok di sektor pendidikan tinggi serta kebijakan makro.

Oleh-Oleh dari China: Kantongi Rp301,41 Triliun Dana Segar AIIB

Kunjungan kerja Menkeu Purbaya ke negeri Tirai Bambu terbukti membuahkan hasil nyata bagi ketahanan fiskal dalam negeri. Salah satu capaian paling krusial adalah keberhasilan Indonesia dalam mengamankan komitmen pendanaan masif senilai USD 17 miliar atau setara Rp301,41 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.730 per dolar AS) dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Komitmen pembiayaan jangka panjang yang masuk dalam draf Multi-Year Rolling Pipeline ini akan dialokasikan secara khusus untuk mendukung eksekusi berbagai proyek pembangunan infrastruktur strategis nasional selama periode 2025–2029.

“Kami berhasil mengamankan pendanaan sekitar USD 17 miliar untuk proyek-proyek pembangunan di Indonesia antara 2025–2029. Itu merupakan kontribusi yang sangat besar bagi kelancaran pembiayaan proyek strategis pemerintah,” papar Purbaya dalam keterangan tertulisnya.

Sinyal Hijau Bank Sentral China untuk Penerbitan Perdana Panda Bond

Selain kemitraan pembiayaan pembangunan bersama AIIB, Kementerian Keuangan RI juga sukses memperoleh dukungan penuh dari Bank Sentral China (People’s Bank of China / PBOC) serta Menteri Keuangan Tiongkok terkait draf rencana penerbitan perdana Panda Bond Indonesia langsung di pasar keuangan domestik China.

Langkah taktis penerbitan surat utang berdenominasi mata uang Yuan ini dirancang sebagai bagian dari manajemen risiko untuk diversifikasi instrumen sumber pembiayaan negara agar APBN tidak terjebak pada ketergantungan satu mata uang asing tertentu.

Otoritas tertinggi perbankan China memastikan akan memberikan karpet merah berupa percepatan draf perizinan dan administrasi birokrasi bagi pemerintah Indonesia. Begitu dokumen pengajuan hukum resmi masuk ke meja PBOC, seluruh proses persetujuan pasar modal akan langsung diakselerasi demi memperkuat kepercayaan basis investor global terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian tangguh.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *