Faktababel.id — Terobosan progresif dalam pelayanan publik diperlihatkan institusi kepolisian dalam menyambut usia barunya. Cendekiawan bangsa sekaligus Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB (IKA ITB), Ir. R Haidar Alwi, menilai peluncuran Kartu Bhayangkara Prioritas Buruh merupakan sinyal kuat lahirnya ekosistem baru dalam transformasi Polri Presisi yang semakin matang dan menyentuh akar rumput.
Kartu Bhayangkara Prioritas Buruh tersebut secara resmi diluncurkan langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada Selasa (23/6/2026). Peluncuran fasilitas ini bertepatan dengan agenda Puncak Bakti Kesehatan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 yang dipusatkan di wilayah Jakarta Selatan.
“Ini menjadi salah satu kebijakan monumental yang menunjukkan semakin luasnya cakupan transformasi Polri Presisi di bidang pelayanan publik. Fasilitas ini menggeser paradigma lama dan membuktikan kepolisian hadir sebagai mitra strategis pembangunan,” kata Haidar Alwi saat diminta tanggapan oleh insan pers di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Sinergikan Jaringan 57 Rumah Sakit Bhayangkara Guna Proteksi Pekerja
Program Kartu Bhayangkara Prioritas Buruh dirancang secara khusus untuk memotong birokrasi dan mempermudah akses jaminan layanan kesehatan bagi para pekerja/buruh. Korps Bhayangkara mengoptimalkan infrastruktur medisnya dengan mengintegrasikan layanan kartu ini ke dalam jaringan 57 Rumah Sakit Bhayangkara yang tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Pendiri lembaga kajian Haidar Alwi Institute (HAI) itu memaparkan bahwa langkah taktis ini sangat krusial dalam menghadapi tantangan ekonomi global, perubahan struktur industri, serta ketatnya persaingan produktivitas sumber daya manusia (human capital).
Menurut Haidar, kebijakan ini menghadirkan perspektif baru di abad ke-21 bahwa kekuatan dan ketahanan nasional tidak lagi hanya bertumpu pada indikator angka pertumbuhan ekonomi makro semata. Keberhasilan pembangunan nasional kini sangat ditentukan oleh kemampuan negara dalam melindungi kesehatan manusia yang menggerakkan roda perekonomian tersebut.
“Di era ekonomi modern, buruh bukan hanya bagian dari faktor produksi retail, melainkan kekuatan strategis bangsa. Ketika Polri menjaga dan memprioritaskan kesehatan buruh, sesungguhnya Polri sedang menjaga denyut nadi produktivitas nasional, memperkuat daya saing industri, serta membangun fondasi Indonesia Emas yang lebih tangguh di masa depan,” tegas Haidar Alwi.
Membangun Segitiga Ketahanan Indonesia Modern Berbasis Hubungan Inklusif
Lebih jauh, Haidar menguraikan bahwa lewat program ini, Indonesia sedang merajut sebuah arsitektur baru yang disebut sebagai Segitiga Ketahanan Indonesia Modern. Struktur ini mengintegrasikan tiga elemen inti secara simultan:
Institusi Polri: Bertugas menjamin stabilitas keamanan dan ketertiban nasional.
Kelompok Buruh: Bertugas menjaga produktivitas ekonomi, manufaktur, logistik, dan konstruksi.
Rumah Sakit Bhayangkara: Bertugas memproteksi dan memulihkan kesehatan sumber daya manusia pekerja.
Cara pandang inklusif ini dinilai sangat adaptif dalam membaca tantangan zaman, di mana potensi krisis domestik tidak lagi hanya bersumber dari gangguan keamanan konvensional, melainkan juga dari isu ketahanan pangan, kesehatan publik, dan stabilitas ekonomi pekerja.
“Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sedang menunjukkan bahwa institusi kepolisian modern tidak lagi sekadar bertindak sebagai penjaga ketertiban hukum, tetapi tampil sebagai penggerak peradaban bangsa. Ketika Polri melindungi buruh, Polri sedang melindungi ekosistem industri nasional yang menjadi penyokong program Asta Cita pemerintah,” pungkas Haidar Alwi.
*(Drw)











