Update Ekonomi 2026: Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,31 Persen di Pasar Bloomberg

BI Tegaskan Aturan Pembayaran Tunai: Dilarang Menolak Rupiah!
/(ilustrasi/@pixabay)

Faktababel.id – Awal pekan menjadi momen yang cukup berat bagi stabilitas ekonomi domestik. Berdasarkan data pasar spot pada Selasa (7/4/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.048 per dolar Amerika Serikat (AS). Penurunan sebesar 0,08 persen dari penutupan sebelumnya ini menunjukkan tekanan eksternal yang masih sangat kuat terhadap mata uang Garuda.

Memasuki pukul 09.30 WIB, kondisi rupiah justru semakin memprihatinkan. Mengacu pada data Bloomberg, mata uang rupiah tercatat merosot lebih dalam hingga 0,31 persen ke level Rp17.087 per dolar AS. Pelemahan singkat ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi arus modal keluar (outflow) akibat tingginya indeks dolar global.

IHSG Berbalik ke Zona Merah

Nasib serupa dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski sempat memberikan harapan dengan dibuka menguat 0,17 persen di level 7.001, euforia tersebut hanya bertahan sekejap. Pada pukul 09.30 WIB, IHSG justru berbalik arah ke zona merah dengan koreksi 0,47 persen ke level 6.956.

Berdasarkan data RTI Business, sentimen negatif nilai tukar berdampak langsung pada performa emiten di bursa. Tercatat sebanyak 313 saham terkoreksi, sementara hanya 231 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Kondisi pasar yang volatil ini mencerminkan kegelisahan investor terhadap stabilitas makroekonomi dalam negeri.

Aktivitas Pasar di Tengah Volatilitas

Hingga pertengahan sesi pertama, total transaksi di pasar modal mencapai Rp2,31 triliun dengan volume perdagangan mencapai 5,7 miliar lembar saham. Tingginya volume transaksi di tengah pelemahan indeks menandakan adanya aksi jual yang cukup masif sebagai respon atas menguatnya dolar AS secara global.

Para analis ekonomi menyarankan pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap pergerakan suku bunga acuan dan kebijakan fiskal Amerika Serikat yang terus menekan mata uang negara berkembang. Pemantauan ketat terhadap cadangan devisa dan langkah intervensi Bank Indonesia menjadi kunci utama dalam menjaga psikologis pasar di sisa pekan ini.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *