Beban Subsidi Pertalite Dan Solar Tetap Mendominasi Komponen Belanja APBN Jakarta

Faktababel.id — Misteri di balik ketetapan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang bergeming di tengah tren penurunan harga komoditas mentah global akhirnya terkuak secara matematis. Meski harga minyak mentah dunia dilaporkan sedang mengalami tren penurunan, namun harga Pertamax di berbagai SPBU tanah air terpantau belum mengalami draf penyesuaian turun.

Saat ini, harga bensin Pertamax (RON 92) masih tertahan kokoh di angka Rp16.250 per liter sejak mengalami kenaikan pada bulan Juni lalu. Ekonom dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai keputusan korporasi tersebut sebenarnya masih berada di dalam draf batas kewajaran koridor ekonomi korporasi.

“Ketika harga Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 per liter pada Juni lalu, nominal tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan oleh formula dasar. Hal itu karena draf harga produk BBM dunia saat itu sedang melonjak sangat tinggi,” urai Yayan Satyakti, dikutip dari Antaranews, Sabtu (3/7/2026).

Siasat Penundaan Penyesuaian Harga Guna Serap Kerugian Masa Lalu

Yayan menjelaskan, menurut draf hitung-hitungan permodelan ekonomi makro, keputusan mempertahankan harga jual BBM nonsubsidi ini sudah bisa diprediksi. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari draf strategi penghalusan harga atau price smoothing yang selama ini konsisten diterapkan oleh PT Pertamina (Persero).

Pertamina diketahui sempat menahan laju kenaikan harga Pertamax secara jor-joran ketika harga minyak dunia sedang mahal-mahalnya demi menjaga draf stabilitas daya beli massal. Imbasnya, perusahaan pelat merah tersebut terpaksa menyerap draf kerugian operasional yang cukup masif. Kini, saat harga minyak dunia melandai, Pertamina menunda draf penurunan harga justru untuk memulihkan margin keuntungan korporasi (margin recovery).

  • Simulasi Formula Esok Hari: Untuk bulan depan, formula dasar acuan pasar sebenarnya mengarah pada harga Rp13.700 per liter. Namun, dengan draf pendekatan smoothing, harga diperkirakan tetap ditahan di kisaran Rp16.000 per liter.

  • Dilema Alokasi Devisa: Langkah menahan harga ini membuat draf keuntungan dari penurunan minyak dunia mengalir langsung untuk menyembuhkan neraca keuangan Pertamina.

  • Beban Anggaran Fiskal: Struktur beban subsidi pemerintah terhadap komoditas Pertalite dan Solar tetap bertengger sebagai komponen terbesar dalam draf pasokan APBN.

Dampak Pilihan Kebijakan Terhadap Kurva Laju Inflasi Nasional

Lebih lanjut, berdasarkan draf estimasi efek rambatan (pass-through), Yayan memetakan dua konsekuensi logis dari perilaku Pertamina sebagai penentu harga di pasar energi domestik.

Apabila Pertamina memilih memangkas harga Pertamax secara radikal mengikuti draf formula keekonomian murni, manfaat utamanya adalah terjadinya draf relaksasi tahunan pada grafik tingkat inflasi nasional, yakni berkurang sekitar -0,4 poin persentase dalam kurun waktu tiga bulan berjalan (melonggarkan grafik dari level 3,34 persen menuju kisaran 2,9 persen).

“Sebaliknya, jika harga Pertamax ini terus ditahan di angka Rp16.250 per liter, maka draf dampak penurunan inflasi tersebut dipastikan nihil, karena seluruh surplus draf penurunan harga minyak mentah dunia dialihkan sepenuhnya untuk perbaikan margin internal Pertamina Group,” pungkas Yayan mengakhiri draf analisisnya.

*(Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *