Faktababel.id – Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan langkah respons cepat menyusul dinamika pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal Ramadan 1447 Hijriah. BGN menetapkan standar baru guna menjaga kualitas layanan di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Keputusan ini diambil dalam rapat koordinasi (rakor) daring pada Selasa (24/2/2026). Kepala BGN, Dadan Hindayana, menekankan bahwa evaluasi ini sangat penting untuk menyelaraskan ekspektasi publik dengan standar operasional di lapangan.
“Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran,” tegas Dadan di Jakarta.
Wajib Teknologi Vakum dan Tinggalkan Plastik
Salah satu poin krusial dalam evaluasi ini adalah peningkatan standar higienitas kemasan. BGN secara tegas menginstruksikan seluruh SPPG untuk meninggalkan penggunaan kantong plastik sederhana dan beralih ke wadah yang lebih representatif.
Lebih jauh, setiap satuan pelayanan diminta segera melakukan pengadaan peralatan vakum (vacuum sealer). Penggunaan teknologi vakum diharapkan dapat menjaga makanan tetap awet, higienis, dan layak konsumsi dalam durasi distribusi yang lebih panjang selama bulan puasa.
Dadan mengingatkan agar para mitra tidak berkompromi dengan kualitas bahan baku. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, ia menegaskan lebih baik distribusi ditunda daripada dipaksakan yang berisiko bagi kesehatan penerima manfaat.
Penyesuaian Menu: Telur Gantikan Kacang
Selain masalah kemasan, BGN juga memberikan arahan mengenai efisiensi komposisi bahan pangan tanpa mengurangi nilai gizi. Dalam rakor tersebut, terungkap bahwa penggunaan telur kini lebih direkomendasikan dibandingkan kacang sebagai sumber protein utama.
Pertimbangan ini diambil berdasarkan faktor stabilitas harga dan persepsi masyarakat. Telur dinilai memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima secara luas oleh berbagai kalangan. Mitra diminta menyesuaikan komposisi menu agar tetap masuk dalam koridor pagu harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Evaluasi berkala ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahpahaman di ruang publik sekaligus memastikan bahwa anggaran negara yang dialokasikan benar-benar bertransformasi menjadi asupan bergizi berkualitas bagi masyarakat selama bulan suci.
(*Drw)







