Faktababel.id, EKONOMI – Laporan Perekonomian Indonesia 2025 yang dirilis oleh Bank Indonesia menggambarkan kondisi ekonomi nasional yang stabil dan tangguh. Dengan inflasi yang terkendali dan pertumbuhan di kisaran 4,7–5,5 persen, Indonesia tampak aman di tengah gejolak global. Namun, di balik angka stabilitas tersebut, terdapat indikator yang menunjukkan risiko stagnasi jangka panjang.
Ekonomi Indonesia saat ini menghadapi paradoks: stabil dalam kecepatan rendah dan masih bergantung pada struktur yang belum berubah secara mendasar. Untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap), Indonesia membutuhkan pertumbuhan di atas 6–7 persen, sebuah angka yang bahkan belum tercapai dalam proyeksi dasar hingga tahun 2031.
Paradoks Kredit: Investasi Melejit, UMKM Tercekik
Salah satu poin paling mengkhawatirkan dalam laporan Desember 2025 adalah ketimpangan penyaluran kredit. Meskipun kredit investasi tumbuh fantastis sebesar 21,06 persen, sektor penopang ekonomi rakyat justru melemah.
Kredit Modal Kerja: Hanya tumbuh 4,52 persen.
Kredit Konsumsi: Tumbuh 6,58 persen.
Kredit UMKM: Mengalami kontraksi (minus) 0,30 persen.
Angka ini menjelaskan mengapa proyek-proyek besar dan investasi terlihat berjalan masif, namun aktivitas ekonomi di tingkat rumah tangga dan usaha kecil terasa sangat berat. Pertumbuhan menjadi sempit dan terkonsentrasi pada sektor besar, kehilangan daya dorong dari bawah.
Hilirisasi Tanpa Kedalaman Industri
Narasi besar pemerintah mengenai hilirisasi juga menghadapi tantangan produktivitas. Sektor hilirisasi baru menyumbang 26,7 persen dari total investasi, sementara sisanya masih berada di sektor non-hilirisasi. Selain itu, produk yang dihasilkan mayoritas masih berupa produk antara, bukan produk akhir bernilai tambah tinggi.
Indonesia masih terjebak dalam pola menjual bahan yang diproses sedikit lebih jauh, namun belum mampu menguasai teknologi atau menciptakan produk akhir. Kondisi ini diperparah dengan angka ICOR (incremental capital-output ratio) yang masih tinggi, yang berarti investasi besar belum menghasilkan pertumbuhan output yang sebanding.
Kerentanan Eksternal dan Arus Modal
Dari sisi eksternal, terjadi net outflow investasi portofolio sebesar 6,8 miliar dolar AS pada 2025. Meskipun cadangan devisa masih kuat di posisi 156,5 miliar dolar AS, fakta bahwa dana asing dapat keluar dengan cepat menunjukkan betapa sensitifnya pasar keuangan domestik terhadap kebijakan suku bunga negara maju.
Stabilitas makroekonomi yang terjaga saat ini memang menjadi kekuatan, namun sekaligus bisa menjadi jebakan. Tanpa adanya urgensi untuk melakukan reformasi struktural dan peningkatan produktivitas total, Indonesia berisiko berjalan di tempat di tengah dunia yang berubah sangat cepat.
(*Drw)









