Faktababel.id, EKONOMI – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur menghadapi kendala serius. Sekitar 300 siswa dilaporkan mengalami gejala mual dan pusing yang diduga kuat akibat keracunan makanan setelah mengonsumsi menu dari program tersebut.
Menanggapi insiden ini, Satgas MBG Cianjur bergerak cepat dengan mengambil tindakan preventif berupa penutupan sementara tiga dapur mitra penyedia layanan. Ketiga dapur tersebut berlokasi di wilayah Kecamatan Kadupandak, Pagelaran, dan Cikalongkulon.
Investigasi Menyeluruh Rantai Produksi
Penutupan operasional ini dilakukan guna memberikan ruang bagi tim Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan investigasi mendalam. Penyelidikan difokuskan pada seluruh titik dalam rantai produksi pangan.
Tim ahli sedang meneliti secara mendetail mulai dari:
Sumber bahan baku: Menelusuri asal usul bahan mentah dari pemasok.
Proses pengolahan: Memeriksa standar prosedur operasional (SOP) di dapur mitra.
Pengepakan: Mengevaluasi cara pengemasan dan durasi distribusi makanan hingga ke tangan siswa.
Sampel sisa makanan telah diambil dan dikirim ke laboratorium untuk uji toksikologi guna memastikan penyebab pasti kontaminasi yang memicu gejala massal tersebut.
Audit Keamanan Pangan dan Edukasi Ulang
Meskipun Satgas mengklaim sistem pengawasan di setiap dapur sudah melibatkan ahli gizi dan dilakukan secara berlapis, insiden ini menjadi sinyal adanya celah keamanan yang harus segera diperbaiki.
Pihak Satgas menegaskan bahwa selama masa penutupan, pengelola dapur akan mendapatkan audit menyeluruh. Selain itu, para kru dapur akan diberikan edukasi ulang mengenai standar higienitas dan sanitasi pangan sebelum nantinya diizinkan beroperasi kembali.
“Keamanan pangan bagi siswa merupakan prioritas utama. Kami akan melakukan audit total agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan,” tegas pihak Satgas dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).
Insiden ini menjadi catatan penting bagi keberlanjutan program nasional MBG agar sistem pengawasan kualitas (quality control) di lapangan diperketat, terutama dalam skala produksi massal yang melibatkan banyak titik dapur mitra.
(*Drw)











