Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Guberanur BI Perry Warjiyo Ungkap Pemicu Outflow 1,6 Miliar Dolar AS

Penetapan UMP 2026: Mengacu Kebutuhan Hidup Layak (KHL)
Nilai Tukar Rupiah/(ilustrasi/@pixabay)

Faktababel.id, EKONOMI – Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS tengah mengalami tekanan hebat hingga hampir menyentuh level psikologis Rp17.000. Volatilitas pasar uang yang meningkat tajam ini memicu kekhawatiran pelaku ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena pelemahan ini melalui konferensi pers virtual pada Rabu (21/1/2026). Perry menyebutkan adanya perpaduan kompleks antara faktor internal dan eksternal yang memicu ketidakpastian pasar saat ini.

Faktor Domestik: Isu Independensi dan Seleksi Deputi

Salah satu pemicu utama dari sisi domestik adalah persepsi negatif pasar terhadap kondisi fiskal serta proses seleksi Deputi Gubernur BI. Masuknya nama Thomas Djiwandono dalam bursa calon bersama Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro menjadi perhatian khusus para investor.

Meski Perry menjamin bahwa proses seleksi dilakukan secara profesional dan sesuai undang-undang, pelaku pasar tetap menunjukkan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di masa depan. Dampaknya, terjadi aliran modal asing keluar (outflow) yang cukup deras mencapai 1,6 miliar Dolar AS.

“Kami menjamin proses ini berjalan sesuai koridor hukum. Stabilitas dan profesionalitas lembaga tetap menjadi prioritas utama kami,” tegas Perry Warjiyo.

Tekanan Global: Kebijakan Tarif AS dan Suku Bunga The Fed

Di sisi lain, faktor global memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan Dolar AS secara luas (broad-based). Berikut adalah poin utama tekanan eksternal:

  • Kebijakan Tarif AS: Ketidakpastian geopolitik dan rencana penerapan tarif baru oleh Amerika Serikat mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven).

  • Suku Bunga The Fed: Minimnya peluang penurunan suku bunga bank sentral AS (The Fed) dalam waktu dekat membuat modal dari negara berkembang berpindah ke pasar maju.

Perry menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. BI berkomitmen untuk terus melakukan intervensi di pasar valas, baik melalui pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan kecukupan likuiditas di pasar domestik.

Langkah ini diambil untuk meredam volatilitas yang berlebihan agar tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi nasional yang tengah berjalan.

(*Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *