Dampak Impor Energi Bahlil Lahadalia: Devisa Negara Hilang Rp 523 Triliun, Solusi Transisi Energi B50

Impor Energi Boroskan Devisa Rp 523 T, Bahlil Siapkan Strategi B50
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia/(Instagram)

Faktababel.id, NASIONAL – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti dampak serius dari tingginya impor energi terhadap perekonomian nasional. Menurut Bahlil, tingginya ketergantungan pada impor minyak mentah (crude oil) dan Bahan Bakar Minyak (BBM) telah mengakibatkan hilangnya devisa negara mencapai angka fantastis Rp523 triliun per tahun.

Bahlil meyakini bahwa jika angka ini mampu ditekan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melonjak signifikan, minimal antara 2 hingga 3 persen.

Jurang Lebar Kebutuhan dan Produksi Domestik

Dampak Impor Energi Bahlil Lahadalia ini diperkuat dengan data kesenjangan produksi dalam negeri tahun 2024:

  • Minyak: Produksi minyak nasional hanya mencapai 221 juta barel, sementara impor minyak menyentuh 313 juta barel.

  • LPG: Konsumsi Gas LPG mencapai 8,5 juta ton. Dengan produksi dalam negeri hanya 1,3 juta ton, Indonesia harus mengimpor hingga 7,2 juta ton LPG setiap tahun untuk kebutuhan domestik.

Strategi Transisi Energi B50 dan Etanol

Untuk menekan impor energi, Menteri ESDM memastikan akan ada Strategi Transisi Energi B50 yang terstruktur.

  1. LNG: Pasokan Gas Alam Cair (LNG) akan dijamin oleh produksi nasional tanpa rencana impor.

  2. B50: Kebijakan implementasi B50 (campuran 50% biodiesel dalam solar) tahun depan diharapkan secara drastis mengurangi impor solar.

  3. Etanol: Kebijakan campuran etanol 10 persen dengan BBM dijadwalkan akan mulai diterapkan pada tahun 2027.

Langkah-langkah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor dan mengamankan devisa negara.

(*Drw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *